Bahasa Indonesia merupakan varian dari bahasa Melayu dimana aksara pertamanya di temukan di pesisir pulau Sumatera. Di identifikasi bahwa bahasa Melayu atau Malayu menyebar ke wilayah Nusantara berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan sehingga bahasa Melayu bisa menyebar sampai ke Filipina dengan bukti di temukannya prasati Keping Tembaga Laguna.
Istilah bahasa Melayu atau Malayu di ambil dari Kerajaan Melayu, sebuah Kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari Jambi. Pada abad ke-19 terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara yakni bahasa Melayu Pasar serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya.
Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahasa Melayu dapat digunakan untuk membantu administrasi di kalangan pegawai pribumi, sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat standarisasi bahasa dan promosi bahasa Melayu juga dilakukan di sekolah-sekolah yang didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibatnya terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa persatuan bangsa pada saat Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, dimana penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin.
Perkembangan bahasa dan kesustraan Indonesia banyak di pengaruhi oleh sastrawan seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar.
Penyempurnaan Ejaan
Bahasa Melayu atau Indonesia mengalami beberapa tahapan yakni:
- Ejaan Van Ophuijsen
- Huruf i untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan harus disuarakan sendiri.
- Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dan sebagainya.
- Huruf oe untuk menulikan kata-kata goeroe, itoe, moeda, oemoer, dan sebagainya.
- Tanda diakritik, seperti tanda koma ain dan tanda trema untuk menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, ta', pa', dan sebagainya.
- Ejaan Republik
- Huruf oe diganti dengan huruf u pada kata-kata guru, itu, muda, umur, dan sebagainya.
- Bunyi hamzah ditulis dengan huruf k pada kata-kata tak, pak, dan sebagainya.
- Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
- Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.
- Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)
- Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
Penjelasan
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahasa ini banyak menyerap kata dari bahasa lain, seperti bahasa Belanda, Inggris, Arab, Sanskerta atau bahasa Jawa Kuno, Tionghoa, Portugis, Tail, Parsi, India, dan bahasa daerah lainnya. Bahasa Indonesia juga tergolong bahasa yang tidak menunjukkan gender, sebagai contoh kata ganti "dia" tidak secara spesifik menunjukkan apakah orang tersebut laki-laki atau perempuan. Begitu juga dengan kata "adik" atau "pacar", untuk menunjukkan jenis kelamin pada kata tersebut dibutuhkan kata sifat seperti "adik laki-laki" atau "adik perempuan".
Bahasa Indonesia mempunyai banyak awalan, akhiran, maupun sisipan, baik yang asli dari bahasa-bahasa Nusantara maupun dipinjam dari bahasa-bahasa asing.
Create by : Fatmawati
Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar